Kamis, 08 Maret 2012

Novel Canting Cantiq



Penulis : Dyan Nuranindya
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 208 halaman
Terbit : Juli 2009


Melanie Adiwijoyo punya hidup yang sempurna. Sebagai anak tunggal pengusaha ternama, sejak kecil Mel punya cita-cita jadi model internasional. Tapi impiannya hancur ketika perusahaan ayahnya bangkrut dan Mel terpaksa meninggalkan Jakarta untuk tinggal bersama Eyang Santoso di Jogja. 


Siapa sangka, Eyang Santoso nggak tinggal sendirian. Ia tinggal bersama anak-anak kos yang punya penampilan aneh-aneh. Ada Dara, cewek tomboi dengan rambut di-highlight pink. Ada Saka, yang suka berpenampilan tradisional. Ada Ipank, anak gunung yang temperamental. Ada Jhony, yang punya rambut kribo. Juga ada Aiko, cewek berwajah oriental yang doyan banget pake minyak telon. 


Nggak hanya mereka, ada juga Dido, cowok berkacamata tebal dengan rambut jigrak kayak Fido Dido, dan Bima yang sangat pendiam. Mel juga bertemu dengan desainer kebaya bernama Aryati Sastra yang getol mengajarinya menjahit. Sanggupkah Mel bertahan di lingkungan barunya, meninggalkan shopping, salon, dan teman-teman cantiknya?


Sinopsis :
Bercerita tentang Melanie atau Mel yang modis dan sangat mengerti dengan dunia fassion. Melanie terbiasa hidup berkecukupan. Melanie hidup bersama Ayahnya karena Ibunya meninggal saat ia kecil dan Ibunya meninggalkan sebuah mesin jahit. Berharap Melanie dapat memanfaatkannya suatu hari nanti. Namun, sejak kecil Mel bercita-cita menjadi model internasional bukan fassion designer. Suatu hari, tiba-tiba perusahaan Ayahnya bangkrut dan menyebabkan Ayahnya kena serangan jantung dan akhirnya meninggal. 


Mel yang tak tau harus tinggal dimana --karena rumahnya disita--, hanya bisa pasrah. Hingga suatu ketika ia pergi ke rumah enyangnya di Jogjakarta untuk menetap disana. Dan Mel menemukan banyak orang-orang aneh yang tinggal disana. Rumah Eyang Mel ternyata menyediakan kos-kosan. Dari sekian banyak penghuni rumah Eyang, hanya Bima yang mampu membuat Mel meleleh.


Sejak saat itu kehidupan Melanie pun berubah. Ia harus bisa mandiri mengerjakan segala keperluan hidupnya sendiri. Ia juga bertemu dengan designer terkenal spesialis kebaya yang mengantarkannya menjadi seorang fassion designer. Dulu Melanie meremehkan anak-anak soda --sebutan untuk anak-anak yang kos di rumah Eyang--, namun kini ia telah berubah. Melanie jadi lebih mengerti tentang arti kehidupan. Tentang bagaimana cara menilai seseorang bukan dari penampilan luar saja. 


Di akhir cerita, Melanie harus pergi ke Paris untuk melanjutkan sekolahnya yang telah dipersiapkan almarhum Ayahnya. Walau begitu, Bima dengan setia akan menunggunya sampai ia kembali dari Paris. Walau Bima dan Melanie tidak terikat dengan suatu hubungan, namun mereka berdua sebenarnya saling menyukai. Di scene yang berbeda, dijelaskan bahwa  anak-anak muda mulai berburu baju batik yang dipadukan dengan gaya modern dan trend masa kini. Dan label baju itu adalah Canting Cantiq karya Melanie Adiwijoyo.


Bagus sih ini novel. Tapi ending yang ngegantung ngebuat cerita ini kurang membekas di ingatan. Sekedar info, lanjutan dari novel ini adalah Cinderella Rambut Pink yang bercerita tentang adiknya Bima yang sedang liburan ke Jojga dan Dara yang merupakan penyiar radio dalam novel ini. Bukan lanjutan sih sebenernya. Cuma tokoh di Cinderella Rambut Pink merupakan bagian tokoh dalam novel ini. Jadi apa ya namanya? Aku jadi bingung. Yang jelas kayak novel-novel Ilana Tan lah. Yang setiap tokoh di novelnya memiliki hubungan di novelnya yang terdahulu. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar