CHAPTER 6:
MISTERI RUMAH KUNO
Sore
harinya Pak Wibisono dan istrinya membawa Karmila ke dokter, meskipun badan
Karmila sudah tak panas lagi. Karmila sendiri sebenarnya enggan dibawa untuk
berobat, karena merasa telah sehat. Anehnya, seperti semalam, ia juga tak ingat
telah berbuat ganjil, bahkan telah melukai wajah kakaknya sendiri.Ketika rumah
telah sepi, Miko juga keluar rumah. Sejak siang tadi, ia telah menetapkan niat
untuk menemui Pak Wisnu yang datang tadi pagi. Begitu banyak informasi yang
ingin ia ketahui, terutama mengenai tempat tinggal barunya. Di lingkungan
barunya ini, Miko merasa hanya baru mengenal Pak Wisnu. Sampai detik ini, Miko
hanya punya anggapan bahwa keanehan yang diperlihatkan Karmila pasti ada kaitannya
dengan rumah baru mereka.Tak sulit untuk menemukan rumah Pak Wisnu di
lingkungan yang tidak terlalu padat itu. Dan Miko agak lega karena ia disambut
dengan baik dan ramah oleh Pak Wisnu."Ada apa Ananda datang kemari?
Nampaknya ada sesuatu yang amat penting sekali...," sambut Pak Wisnu
seketika, begitu melihat Miko datang dengan wajah keruh."Adik saya
kesurupan lagi....""Kesurupan? Maksudnya, seperti semalam lagi? Masya
Allah... saya tadinya hendak berkata begitu, tapi takut menyinggung perasaan
ayahmu."
"Ja-jadi, Bapak pun tahu bahwa Karmila, adik saya, kesurupan setan?"
Miko semakin antusias."Ada arwah yang merasuki adikmu....""Persis!
Saya pun beranggapan begitu. Tapi, Bapak saya selalu menilai saya kelewatan,
mengada-ada."
Pak Wisnu mengangguk-angguk, tanda memahami."Apakah ada kaitannya dengan
rumah kami?""Saya tidak berani memastikan begitu. Tapi...."
"Apakah sebelumnya pernah terjadi keanehan di rumah itu? Sejak semula saya
kurang setuju kalau Bapak saya membeli rumah hantu itu."
"Rumah hantu?""Mirip, kan? Suasananya begitu..." Miko
berhenti sebentar. "Tunggu! Sekarang saya ingat lagi....""Selama
ini tidak pernah terjadi keanehan di rumah itu, kecuali....""Tunggu
dulu, Pak. Sekarang saya yakin bahwa suara nyanyian dari mulut adik saya sama
sekali bukan suaranya. Melainkan...."
"Suara anak-anak?" potong Pak Wisnu."Ya, betul!"Sebentar,
Pak Wisnu seolah membantu dengan mengernyitkan dahi berusaha mengingat-ingat.
"Di telinga saya, suara itu adalah suara Niar.""Bapak
yakin?""Dulu saya sering datang ke rumah itu untuk memotong rumput.
Beberapa kali dalam sebulan Pak Sindhu mengupah saya untuk membersihkan halaman
rumahnya. Memotong rumput, memangkas pohon. Jadi, saya sudah hapal dengan suara
dan nyanyian Niar. Kasihan anak itu....""Tapi, kata Bapak saya, Pak
Sindhu tidak memiliki anak.""Bohong. Mungkin ia hanya malu karena...."
Pak Wisnu ragu untuk meneruskan ucapannya."Karena apa, Pak?" Miko
mendesak.
Pak Wisnu menarik napas panjang terlebih dahulu. "Putri satu-satunya itu
berubah ingatan!""Mak-maksud Bapak, gila?!"***
CHAPTER 7:
MISTERI ARWAH YANG SUKA BERNYANYI
Pak
Wisnu menghela napas panjang lagi. "Panjang ceritanya. Tapi semua warga di
daerah ini tahu persis peristiwa menyedihkan yang dialami keluarga Pak
Sindhu."Miko takzim menyimak."Pak Sindhu mewarisi rumah tua itu dari
kakeknya. Ia tinggal bersama istrinya yang cantik hingga kemudian dikaruniai
seorang putri yang cantik. Niar namanya. Ia buah hati kedua orangtuanya. Sayang
kebahagiaan mereka terenggut. Suatu hari mobil yang mereka kendarai mengalami
kecelakaan fatal. Istri Pak Sindhu meninggal dalam kecelakaan
itu.""Juga Niar?" Miko semakin antusias."Tidak. Niar
selamat meski harus menjalani banyak waktu untuk perawatan. Dan ia... ia
mengalami gangguan otak. Ia mengalami gegar otak berat karena benturan keras
dalam kecelakaan tersebut. Berbagai cara telah ditempuh, namun hasilnya...
entahlah, hanyan Pak Sindhu yang tahu. Setahu kami, Niar tumbuh semakin dewasa,
tapi tingkah dan kemampuannya abnormal — tetap seperti anak kecil. Ia
didiagnosis mengalami gangguan mental karena gegar otak akut. Bertahun-tahun
Pak Sindhu hidup berdua dengan Niar yang tidak waras. Kala kecelakaan maut itu,
Niar baru jalan lima tahun, hingga sekarang... mungkin usianya limabelas
tahun.""Sama dengan usia Karmila," desis Miko."Tapi
anehnya," lanjut Pak Wisnu," Niar tiba-tiba tak pernah kelihatan
lagi. Orang-orang tak pernah lagi mendengar lagu-lagunya yang lucu dan
racau.""Sejak kapan?""Hampir setahun yang lalu, tepatnya
sebelum Pak Sindhu menikah lagi. Waktu itu....""Tunggu dulu, Pak!
Jadi, Pak Sindhu sudah punya istri lagi?"
Pak
Wisnu mengangguk. "Waktu itu, sejak wanita yang kemudian dipersunting Pak
Sindhu hadir, Niar telah tidak kelihatan lagi. Katanya, entah siapa yang
bilang, Niar dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Kasihan, kan?"
"Seharusnya memang begitu.""Kenapa tidak dulu-dulu?""Pasti
Pak Sindhu sudah banyak berupaya.""Ya, mungkin begitu. Ah, orang itu
memang amat tertutup sejak istrinya meninggal. Ketika menikah, orang-orang di
sini pun tak ada yang diundangnya ke pesta pernikahannya.""Mereka
menikah di sini?""Tidak. Kabarnya mereka menikah di kota istri
barunya. Dan sejak saat itu, rumah yang kalian tempati itu dikosongkan. Hanya
sesekali saja Pak Sindhu datang menengok.""Pantas rumah itu kurang
terawat," gumam Miko.
"Hampir setahun ditinggalkan."Apakah ada sesuatu yang tak wajar di
rumah itu sehingga Pak Sindhu meninggalkan rumahnya, bahkan kemudian menjualnya
dengan harga yang sangat murah. Rumah tersebut sebenarnya sangat artistik,
bukan?"Pak Wisnu memainkan jari-jarinya. "Seingat saya tak ada yang aneh
di rumah itu. Tak pernah.""Mungkin ada hantunya...."
Pak Wisnu menggeleng."Jangan karena ada saya, Pak....""Oh,
tidak! Rumah itu biasa-biasa saja. Sekali pun tak pernah ada kejadian aneh,
apalagi menyeramkan. Kesannya saja yang angker, karena tidak terawat dan catnya
yang kusam termakan cuaca.""Lalu, kejadian apa yang telah menimpa
adik saya? Kenapa bisa seperti itu? Kerasukan, seperti orang gila dan...."
"Saya bukan orang pintar, bukan dukun atau paranormal. Untuk urusan
kerasukan setan, mungkin bisa diatasi oleh mereka, yang ahli ilmu gaib."
"Mudah-mudahan dokter bisa mengatasi. Mungkin Karmila memang sakit dah
harus diobati...," gumam Miko."Saya harap begitu," ucap Pak
Wisnu. Ucapan bernada bimbang.
***
CHAPTER 8:
ARWAH YANG SUKA MENYANYI LAGU ANAK-ANAK
Ibu
Wibi kembali terguncang. Tengah malam, ketika semua baru saja terlelah, Karmila
kembali bertingkah aneh. Kembali menari dan bernyanyi seperti orang gila. Pak
Wibisono dan Miko berusaha memegangi tubuh Karmila, malahan terlempar ketika
gadis itu meronta-ronta. Di tengah-tengah kepanikannya, tiba-tiba Miko ingat
kisah yang dituturkan Pak Wisnu.
Miko telah berdiri persis di depan Mila yang masih berputar-putar dan
menyanyikan lagu anak-anak dengan suara yang aneh."Niar!" suara Miko
keras menghardik.Pak Wibisono kaget, sekaligus khawatir melihat tindakan Miko
yang menurutnya sangat aneh. Tapi di luar dugaan, hardikan itu seketika
menghentikan gerakan dan suara Karmila.Kamu Niar bukan? Kamu arwah Niar?!""Miko!
Jangan macam-macam! Adikmu lagi sakit. Ia mengigau karena demamnya datang
lagi!" Pak Wibisono mendorong tubuh Miko.
"Niar!" Miko tak mempedulikan ayahnya lagi. Ia sekali lagi
menghardik. "Jika kamu berniat baik dan tak ingin mengganggu, pasti kamu
mau menjawab. Kamu Niar, bukan?"Tiba-tiba Karmila menjatuhkan diri ke lantai,
lalu menangis. Ia menangis sembari menggelosoh di lantai, seperti kelakuan
seorang anak kecil.
Miko mendengar tangis seorang bocah!
Pak
Wibisono dan istrinya tak bisa berbuat banyak, kecuali memandang anak
laki-lakinya itu, yang kini berjongkok sambil membelai kepala Karmila.
"Niar... Niar...," katanya lembut. "Kami semua orang baik-baik
dan tidak ingin mengganggu kamu. Tolong katakan... apa yang kamu mau? Tolong,
kasihanilah adikku. Niar... Niar...."Pak Wibisono dan istrinya menjadi
takjub luar biasa manakala tiba-tiba Karmila menghentikan tangisnya.
Karmila berdiri setelah meraih lengan Miko, serta menarik kakaknya hingga
berdiri juga. Sebelum Miko paham, ia terpaksa menurut ketika Karmila menariknya
menuruni tangga. Karmila berhenti di anak tangga terakhir. Miko masih terus
dipegang pergelangan tangannya oleh Karmila, seakan-akan orang buta yang
ditunjukkan jalannya. Di samping tangga menuju lantai atas itu, mendadak
Karmila kembali menangis. Berkali-kali ia menunjuk ke arah dinding di bawah
tangga itu."Bongkar! Bongkar! Bongkar!" teriak Karmila berkali-kali
bagai histeris. Ia terus menunjuk dinding di bawah tangga itu.
Miko kebingungan lagi. Ia memandang kedua orangtuanya yang juga sama-sama
bingung.Tangis Karmila semakin keras. Ia kembali meronta-ronta dan menggelosoh
di lantai, mirip kelakuan bocah kecil yang dikecewakan.
Setelah itu Karmila terkulai, tertidur di lantai yang dingin dengan keringat
bersimbah di sekujur tubuhnya. Ketika Miko dengan susah-payah membopong Karmila
ke kamar ibunya, Pak Wibisono menguntit dari belakang dengan sikap tak
berdaya."Niar? Siapa Niar?""Anak Pak Sindhu. Bapak lupa cerita
Pak Wisnu tadi pagi?"Setelah Karmila ditidurkan, Pak Wibisono dan istrinya
duduk rapi di depan anak laki-lakinya. Miko menceritakan pertemuan dengan Pak
Wisnu. Ia menceritakan kembali apa yang telah didengarnya dari Pak Wisnu."Aneh
juga. Sekian pertemuan dengan Pak Sindhu, ia tak pernah bercerita perihal
keluarganya, apalagi tentang anaknya yang mengalami gangguan mental. Bapak
bahkan sama sekali tidak tahu bahwa Pak Sindhu telah beristri lagi.""Mungkin
masih ada rahasia-rahasia yang sengaja disembunyikan olehnya. Rahasia-rahasia
rumah ini," kata Ibu Wibi. Ia tak bisa menyembunyikan ketakutan dan
kekhawatirannya. "Lalu, apa hubungannya dengan Niar? Apa betul orang yang
belum mati bisa merasuki Mila? Aneh!""Bongkar...?!"Miko tengah
berpikir keras.
***
CHAPTER 9:
MISTERI SATIR DI RUMAH KUNO
Hari
ini Pak Wibisono berjanji hendak menemui seorang paranormal kenalannya sepulang
dari kantor, untuk membicarakan keanehan yang terjadi pada Karmila. Ibu Wibi
dan Miko amat mendukung keputusan Pak Wibisono itu, namun Miko juga punya
rencana lain.Pulang sekolah, Miko tidak langsung pulang ke rumah, melainkan
berbelok ke rumah Pak Wisnu. Untunglah Pak Wisnu juga sedang ada di rumah.Ketika
telah berhadapan dengan orang tua itu, Miko langsung menceritakan kejadian
semalam.
"Dinding di bawah tangga?" Pak Wisnu memotong cerita Miko.
"Niar... maksud
saya Karmila, menunjuk-nunjuk dinding di bawah tangga itu. Bongkar! Bongkar!
Begitu katanya, Pak."Pak Wisnu nampak berpikir. Ia tengah menggali
ingatannya."Saya sering masuk ke rumah itu dan tahu persis situasi dari
ruang-ruang di dalam. Tapi seingat saya, di bawah tangga ke atas itu sengaja
dibiarkan terbuka.
Tentu
saja terbuka, karena jadi ruang kecil yang dimanfaatkan sebagai gudang. Betul!
Saya selalu mengambil sabit dan gunting rumput dari bawah tangga,"
ungkapnya."Nanti dulu! Bapak pasti salah ingat. Tak ada ruang di bawah tangga.
Yang ada cuma dinding!""Bongkar...?" Pak Wisnu bergumam. Lalu tiba-tiba:
"Ayo kita ke rumahmu!"Miko terbawa oleh semangat Pak Wisnu. Hanya
dalam dua kali pertemuan, ia telah merasa akrab dengan Pak Wisnu. Tidak lama
berselang sesampainya di rumah, Ibu Wibi tidak bisa berbuat banyak kecuali
membiarkan Pak Wisnu masuk ke rumah. Ia percaya sepenuhnya pada Miko. Dan semua
demi kebaikan Karmila!
"Dinding ini!" Miko menunjuk dinding di sisi tangga, atau lebih tepat
disebut di bawah tangga. Semestinya ada ruang berbentuk segitiga di bawah tangga
itu, namun yang ada adalah dinding. Dinding yang menutup ruang kecil berbentuk
segitiga di bawah tangga."Dulu dinding ini tidak ada!" kata Pak Wisnu
spontan. Spontan pula ia memukul-mukul permukaan dinding itu. "Nah, benar
bukan? Dengarkan suaranya! Di balik dinding ini ada ruang kosong. Di sinilah
dulu saya mengambil dan menaruh kembali peralatan kebun."
Miko ikut memukul-mukul dan akhirnya membenarkan ucapan Pak Wisnu.
"Ini dinding baru. Lihat perbedaan warnat catnya. Beda, kan? Dinding ini
lebih baru dan... sayangnya agak asal-asalan membuatnya. Siapa tukang borong
yang membuatnya?" Pak Wisnu berkata pada dirinya sendiri.
Selagi keduanya, ditambah kemudian dengan Ibu Wibi, masih memeriksa dinding
itu, terdengar suara langkah tergesa menuruni anak tangga.
"Bongkar!"
Mereka bertiga menoleh dan tercekat."Mila?!" Ibu Wibi dan Miko
menjerit serentak."Niar?" Pak Wisnu berkomat-kamit.Mulut Karmila yang
mengeluarkan keluhan amarah, berangsur-angsur berubah menjadi tangisan pilu.
Tangis seorang bocah!Mulut Pak Wisnu masih komat-kamit. Ia menggosok-gosokkan
telapak tangannya, meniupkan tiga kali, lalu melangkah mendekati Karmila.
Tangan Pak Wisnu terulur maju dan tahu-tahu telapak tangannya mengusap wajah
Karmila.Miko dan Ibu Wibi kian terpukau ketika melihat Karmila seperti
terhentak. Seketika pula ekspresi wajah dan cahaya matanya berubah."Ibu...?"
Karmila menatap ibunya dan kakaknya bergantian. Matanya seperti seorang yang
baru bangun dari tidur. "Pada mau ngapain?""Anu... Non, Ibu
menyuruh saya membongkar dinding ini." Pak Wisnu justru yang menjawab
sambil menunjuk dinding di bawah tangga.
"Lho, kenapa?" Karmila terheran-heran."Karena bisa untuk gudang,
Mila," kata Miko.Ibu mengangguk. Artinya, di antara mereka bertiga, tanpa
harus bicara, telah ada kesepakatan bahwa dinding itu harus dibongkar.
***