"Vit,masuk
kamu apa?"tanya Geby penasaraan. "tidak boleh ngobrol didalam kelas,saat
pelajaraan..."kata Vita cuek. Duaarr!!Gerrr!! bunyi geledek kembali. Vita
mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk kelas, ada seorang cowok dengan
baju yang kotor kena lumpur lewat didepan pintu 8.5. Vita memejamkan matanya
mungkin saja itu hanya hayalan. Vita membuka kembali matanya. ternyata cowok
yang dilihatnya menghilang. Vita mengalihkan lagi pandangannya ke meje guru,
ternyata cowok yang dilihatnya sedang berdiri di samping guru dengan membawa
kertas ujian. Mata Vita terbelalak. "vit,kamu kenapa?"tanya Geby.
"dia ada disini...dia sedang melihat kita,aku mendengar dia mengatakan
sesuatu."kata Vita sembari melenjutkan menulis lagi. "maksud kamu
apa?dia ngatain apa?"kata Geby. "dia ngomong..." "something
will happen if you do not help me and stop the shadow of the library, I had to
have completed this test .." "apa yang terjadi?sebenarnya apa yang
terjadi disekolah ini?rahasia apa yang disembunyikan?" "seiring
berlalunya waktu kamu akan tahu apa yang terjadi disekolah ini...there are many
secrets in this school, very much". Geby mengerutkan keningnya.
Teng...Teng... bunyi bel tanda istirahat sekolah. Geby memutuskan untuk
menghabiskan waktu istirahatnya diperpustakaan,Vita pun begitu.
"Vit,diperpus...ada buku apa?" "yang penting gak buku porno
disitu..."kata Vita cuek sembari menaikki tangga menuju ke perpustakaan.
"kamu kok gitu sih!" Vita hanya diam, mereka memasukki perpustakaan.
"kamu dengar jangan mengambil buku yang berwarna merah,dimanapun kamu
menemukannya..." Geby hanya mengangguk. Vita duduk dikursi dengan membaca
buku yang berjudul "death is not the end of everything". Geby kembali
dengan membawa setumpuk buku. "hah!untung banyak disini..."kata geby.
Vita menoleh kearahn geby,lalu melanjutkan lagi membaca. Geby,memilih buku yang
ingin dibacanya duluan. saat mengangakat buku,Geby menemukan buku yang
bersampul merah. Geby tertarik untuk membaca buku itu yang berjudul "read
and you'll discover the real meaning". sekitar 2 cm lagi geby memegangnya.
Brakk!! Buku yang ada dirak berjatuhan.Vita langsung melihat ke arah tempat rak
buku itu,ternyata ada seorang cowok dengan tampang baju kotor, berdiri disitu.
Geby,tersadar dari yang akan dia lakukan. "kamu menemukaannya??"tanya
Vita. "apaa?" "buku itu?" Mata Geby Terbelalak.
BERSAMBUNG>>>>> terima kasih sudah setia membaca. Hhe. sampai
bertemu lagi di Episod berikutnya.
Rabu, 01 Februari 2012
Hantu Perpustakaan
Hari
ini hujan sangat deras didaerah palembang,di pagi hari yang cerah tadi berubah
menjadi pagi yang mendung dan gelap. Tepatnya disekolah SMP Pusri, hari ini seperti
siswa - siswi bermain sebelum bel tanda belajar dibunyikan. Hari ini SMP Pusri kedatangan
siswi baru dari surabaya, anaknya manis dan cantik. Teng...teng... Bunyi bell
tanda masuk disekolah smp pusri,tanda untuk memulai belajar mengajar. Guru ilmu
pengetahuan alam masuk ke kelas 8.2 paling ujung. "sikap beri salam..."kata
seorang ketua kelas 8.2 "assalamuallaikum..wr.wb"kata siswa - siswi.
"walaikumsalam..wr.wb"ucap bu guru.." "berdoa mulai.."
weweweeeeseseeseseses... "doa selesai..." "hari ini kita
kedatangan siswi baru dari surabaya..." "siapo bu?"tanyo seorang
siswa. "aii nak tau be kau nih!jingo be agek o.."kata siswa laen.
"bertanyo kan boleh..emang ado hukumannyo?" "sudah..sudah..geby,kamu
boleh masuk.." geby berjalan dari luar dan masuk kedalam dengan malu -
malu. "haii...nama saya geby brendata, saya pindahan dari surabaya. Semoga
kehadiran saya gak menggangu ketenangan kalian.." "emang aku antu
idak akan..yo,sudah dk nganggu ketenangan berarti o.."kata hida. Geby
menunduk malu. "sudah hadi..kamu ini selalu jahil,geby kamu duduk dengan
vita.."kata bu guru. "iya bu..."kata geby masih malu. Geby pergi
ke arah bangkunya vita,vita menyambutnya dengan tatapan kosong. Geby
tersenyum,vita tersenyum kaku. "haii nama aku geby..."kata geby
memberi senyuman. "gue udah tau..."kata vita sembari menguyah permen
karet. "maaf ya..kalau gue ganggu kamu..." "vitaa!!,apa itu
dimulut?kamu makan apa?buang!!" "hah!iya bu..."kata vita nurut.
Vita keluar dari kelas membuang permen karetnya dan masuk kembali. Gluduukk!duarr!gerrr!!..
Bunyi geledek di pagi hari itu. Mata vita terbelalak. "dia
datang..."kata vita. "apanya yang datang vit?"tanya geby.
"sepasang calon pengantin yang gak jadi..."kata vita dengan tatapan
kosongnya. "sepasang calon pengantin?maksud kamu?"tanya geby lagi.
"cepat atau lambat kamu pasti ngerti apa yang aku maksud.."kata vita.
Geby makin binggung dengan perilaku vita. Berhenti sampai sini dulu,,
bersambung>>>
Sabtu, 28 Januari 2012
Rabu, 18 Januari 2012
Arwah Yang Suka Bernyanyi ,CHAPTER 10 - 11
CHAPTER 10:
MISTERI PEMBUNUH NIAR
MISTERI PEMBUNUH NIAR
Ibu
Wibi mengajak Karmila kembali ke kamar."Ternyata Pak Wisnu punya
ilmu.""Ilmu apa? Cuma kemampuan kecil. Ananda pun bisa belajar. Cuma
doa."Miko tersenyum puas.
"Kemarin-kemarin kami selalu kerepotan
mengatasi Karmila, tapi ternyata Pak Wisnu cuma dengan sekali sentuhan, Karmila
seketika sadar. Hebat!"
Miko teringat ayahna. Pasti akan ada perdebatan terlebih dahulu. Tapi mengingat kemampuan Pak Wisnu dalam menyadarkan Karmila tadi, timbullah kepercayaan Miko padanya. Nampaknya Pak Wisnu langsung melihat, atau setidaknya memiliki firasat tertentu. Dan Miko percaya, di balik sikapnya yang selalu merendah, sesungguhnya Pak Wisnu punya kemampuan ekstra melebihi orang kebanyakan.Mungkin semacam kekuatan supranatural."Bagaimana? Ananda setuju saya bongkar dinding ini?"Bagaimana jika Bapak marah? Tapi Ibu pun sudah setuju! batin Miko.
"Saya carikan alatnya, Pak. Sekarang juga!" kata Miko akhirnya dengan suara mantap. Ya, semua ini demi kebaikan Karmila!Sesaat kemudian Pak Wisnu dan Miko cukup menimbulkan kegaduhan. Dengan hanya menggunakan sebuah palu yang cukup besar, mereka bergantian membobol tembok di bawah tangga itu. Miko merasa, Pak Wisnu amat bersemangat. Ia bekerja tanpa banyak bicara. Tapi ketika ia telah berhasil membuat lubang sebesar kepala kerbau, sejenak Pak Wisnu berhenti. Miko pun secara refleks mendekap hidungnya.Ada bau tak sedap keluar dari lubang yang telah berhasil dibuat itu."Mundur!" perintah Pak Wisnu pada Miko.Lalu, ia mengatur sikap membuat ancang-ancang dan mengayunkan martil sekuat tenaga.Sebuah lubang yang cukup besar telah tercipta, dan itu cukup membuat keduanya dengan mudah melihat sesuatu yang berada di balik dinding itu.Sesuatu yang membuat Miko hampir pingsan!**
Miko teringat ayahna. Pasti akan ada perdebatan terlebih dahulu. Tapi mengingat kemampuan Pak Wisnu dalam menyadarkan Karmila tadi, timbullah kepercayaan Miko padanya. Nampaknya Pak Wisnu langsung melihat, atau setidaknya memiliki firasat tertentu. Dan Miko percaya, di balik sikapnya yang selalu merendah, sesungguhnya Pak Wisnu punya kemampuan ekstra melebihi orang kebanyakan.Mungkin semacam kekuatan supranatural."Bagaimana? Ananda setuju saya bongkar dinding ini?"Bagaimana jika Bapak marah? Tapi Ibu pun sudah setuju! batin Miko.
"Saya carikan alatnya, Pak. Sekarang juga!" kata Miko akhirnya dengan suara mantap. Ya, semua ini demi kebaikan Karmila!Sesaat kemudian Pak Wisnu dan Miko cukup menimbulkan kegaduhan. Dengan hanya menggunakan sebuah palu yang cukup besar, mereka bergantian membobol tembok di bawah tangga itu. Miko merasa, Pak Wisnu amat bersemangat. Ia bekerja tanpa banyak bicara. Tapi ketika ia telah berhasil membuat lubang sebesar kepala kerbau, sejenak Pak Wisnu berhenti. Miko pun secara refleks mendekap hidungnya.Ada bau tak sedap keluar dari lubang yang telah berhasil dibuat itu."Mundur!" perintah Pak Wisnu pada Miko.Lalu, ia mengatur sikap membuat ancang-ancang dan mengayunkan martil sekuat tenaga.Sebuah lubang yang cukup besar telah tercipta, dan itu cukup membuat keduanya dengan mudah melihat sesuatu yang berada di balik dinding itu.Sesuatu yang membuat Miko hampir pingsan!**
CHAPTER 11:
SELAMAT JALAN NIAR
SELAMAT JALAN NIAR
Miko
melipat korannya dengan wajah puas. Ada perasaan bangga karena di dalam berita
itu namanya disebut-sebut sebagai orang yang punya peranan penting atas
terbongkarnya kasus pembunuhan yang cukup unik itu.
Akhirnya, tanpa kesulitan yang berarti, pihak yang berwajib berhasil menemukan dan memenjarakan Pak Sindhu. Akhirnya terungkap juga semua alasan yang membuat Pak Sindhu tega menghabisi nyawa anak kandungnya sendiri. Alasan yang kedengarannya tak masuk akal. Pak Sindhu malu jika calon istri barunya mengetahui bahwa ia punya seorang anak, apalagi seorang anak perempuan yang gila.Jangan-jangan Sindhu itu juga bukan orang waras, batin Miko."Kopinya, Miko."Miko menoleh. Ibu Wibi mengangsurkan segelas kopi kepadanya."Enak saja! Ini buat Pak Wisnu. Suruh ia istirahat sebentar. Kasihan, dari pagi belum berhenti. Dia memang rajin...."Miko segera membawa segelas kopi itu ke dalam. Di bawah tangga dilihatnya Pak Wisnu masih sibuk dengan adonan semennya.
"Ngopi dulu, Pak."Pak Wisnu tersenyum. "Sedikit lagi beres, kan? Besok tinggal mengecat dan... kembali seperti semula. Seperti setahun yang lalu.""Bagus. Bagaimanapun, seharusnya itu memang dibiarkan terbuka, dan dimanfaatkan untuk gudang."Miko memandang ruang kecil berbentuk segitiga di bawah tangga itu.
Akhirnya, tanpa kesulitan yang berarti, pihak yang berwajib berhasil menemukan dan memenjarakan Pak Sindhu. Akhirnya terungkap juga semua alasan yang membuat Pak Sindhu tega menghabisi nyawa anak kandungnya sendiri. Alasan yang kedengarannya tak masuk akal. Pak Sindhu malu jika calon istri barunya mengetahui bahwa ia punya seorang anak, apalagi seorang anak perempuan yang gila.Jangan-jangan Sindhu itu juga bukan orang waras, batin Miko."Kopinya, Miko."Miko menoleh. Ibu Wibi mengangsurkan segelas kopi kepadanya."Enak saja! Ini buat Pak Wisnu. Suruh ia istirahat sebentar. Kasihan, dari pagi belum berhenti. Dia memang rajin...."Miko segera membawa segelas kopi itu ke dalam. Di bawah tangga dilihatnya Pak Wisnu masih sibuk dengan adonan semennya.
"Ngopi dulu, Pak."Pak Wisnu tersenyum. "Sedikit lagi beres, kan? Besok tinggal mengecat dan... kembali seperti semula. Seperti setahun yang lalu.""Bagus. Bagaimanapun, seharusnya itu memang dibiarkan terbuka, dan dimanfaatkan untuk gudang."Miko memandang ruang kecil berbentuk segitiga di bawah tangga itu.
Ia teringat kembali seperti apa perasaannya
waktu itu. Ia masih bisa membayangkan bagaimana dan seperti apa mayat yang
belum seluruhnya hancur itu. Bahkan pakaiannya masih utuh dan tali yang
melingkar di leher itu pun masih utuh. Kurun waktu setahun dalam ruang tertutup
amat rapat membuat mayat itu tidak cepat rusak.Mayat Niar.Miko masih sering
berpikir, apakah arwah penasaran Niar juga akan merasuki orang, jika orang itu
bukan Karmila? Bagaimana jika yang datang sebagai penghuni bukan anak perempuan
yang kebetulan sama persis tanggal, bulan, dan tahun kelahirannya dengan Niar?Barangkali
kasus terbunuhnya Niar tak pernah terungkap. Karmila sendiri sudah tidak
terlalu merisaukan keanehan-keanehan yang pernah menimpa dirinya.Ia menganggap
dirinya hanyalah media yang dipakai arwah Niar untuk membuka dan menyingkap
kejahatan dan kekejian ayahnya sendiri.Luar biasa.Buktinya, sejak jasad Niar
dikebumikan dengan layak, dan kejahatan Pak Sindhu terungkap, Karmila tak
pernah lagi mengalami hal-hal aneh maupun kesurupan."Tidak usah terlalu
bagus, Pak Wisnu...."Miko dan Pak Wisnu menoleh. Yang datang adalah Pak
Wibisono.
"Bapak
ini!" kata Miko. "Tentunya Bapak setuju jika kita mempertahankan
keaslian rumah antik ini, kan? Kita tidak tahu, tapi Pak Wisnu lebih tahu
seperti apa bentuk kolong tangga ini dulunya....""Iya, tapi apa
artinya jika sebentar lagi Bapak akan menjualnya?""Menjual rumah
ini?" Miko terpukau.Pak Wibisono tertawa gembira. "Kenapa tidak?
Karena foto rumah kita beberapa kali muncul di koran, ternyata berakibat bagus.
Ada sekian penggemar bangunan kuno yang tertarik untuk membeli dengan harga
istimewa."Apa tidak sayang, Pak?""Kalau mereka berani membayar
tiga kali lipat dari nilai beli kita?""Terserah Bapak. Mungkin dengan
begitu kita bisa membuat rumah yang betul-betul baru. Tanpa masalah, tanpa
misteri...."Pak Wibisono tersenyum. ©
TAMAT
Arwah Yang Suka Bernyanyi CHAPTER 6-9
CHAPTER 6:
MISTERI RUMAH KUNO
MISTERI RUMAH KUNO
Sore
harinya Pak Wibisono dan istrinya membawa Karmila ke dokter, meskipun badan
Karmila sudah tak panas lagi. Karmila sendiri sebenarnya enggan dibawa untuk
berobat, karena merasa telah sehat. Anehnya, seperti semalam, ia juga tak ingat
telah berbuat ganjil, bahkan telah melukai wajah kakaknya sendiri.Ketika rumah
telah sepi, Miko juga keluar rumah. Sejak siang tadi, ia telah menetapkan niat
untuk menemui Pak Wisnu yang datang tadi pagi. Begitu banyak informasi yang
ingin ia ketahui, terutama mengenai tempat tinggal barunya. Di lingkungan
barunya ini, Miko merasa hanya baru mengenal Pak Wisnu. Sampai detik ini, Miko
hanya punya anggapan bahwa keanehan yang diperlihatkan Karmila pasti ada kaitannya
dengan rumah baru mereka.Tak sulit untuk menemukan rumah Pak Wisnu di
lingkungan yang tidak terlalu padat itu. Dan Miko agak lega karena ia disambut
dengan baik dan ramah oleh Pak Wisnu."Ada apa Ananda datang kemari?
Nampaknya ada sesuatu yang amat penting sekali...," sambut Pak Wisnu
seketika, begitu melihat Miko datang dengan wajah keruh."Adik saya
kesurupan lagi....""Kesurupan? Maksudnya, seperti semalam lagi? Masya
Allah... saya tadinya hendak berkata begitu, tapi takut menyinggung perasaan
ayahmu."
"Ja-jadi, Bapak pun tahu bahwa Karmila, adik saya, kesurupan setan?" Miko semakin antusias."Ada arwah yang merasuki adikmu....""Persis! Saya pun beranggapan begitu. Tapi, Bapak saya selalu menilai saya kelewatan, mengada-ada."
Pak Wisnu mengangguk-angguk, tanda memahami."Apakah ada kaitannya dengan rumah kami?""Saya tidak berani memastikan begitu. Tapi...."
"Apakah sebelumnya pernah terjadi keanehan di rumah itu? Sejak semula saya kurang setuju kalau Bapak saya membeli rumah hantu itu."
"Rumah hantu?""Mirip, kan? Suasananya begitu..." Miko berhenti sebentar. "Tunggu! Sekarang saya ingat lagi....""Selama ini tidak pernah terjadi keanehan di rumah itu, kecuali....""Tunggu dulu, Pak. Sekarang saya yakin bahwa suara nyanyian dari mulut adik saya sama sekali bukan suaranya. Melainkan...."
"Suara anak-anak?" potong Pak Wisnu."Ya, betul!"Sebentar, Pak Wisnu seolah membantu dengan mengernyitkan dahi berusaha mengingat-ingat. "Di telinga saya, suara itu adalah suara Niar.""Bapak yakin?""Dulu saya sering datang ke rumah itu untuk memotong rumput. Beberapa kali dalam sebulan Pak Sindhu mengupah saya untuk membersihkan halaman rumahnya. Memotong rumput, memangkas pohon. Jadi, saya sudah hapal dengan suara dan nyanyian Niar. Kasihan anak itu....""Tapi, kata Bapak saya, Pak Sindhu tidak memiliki anak.""Bohong. Mungkin ia hanya malu karena...." Pak Wisnu ragu untuk meneruskan ucapannya."Karena apa, Pak?" Miko mendesak.
Pak Wisnu menarik napas panjang terlebih dahulu. "Putri satu-satunya itu berubah ingatan!""Mak-maksud Bapak, gila?!"***
"Ja-jadi, Bapak pun tahu bahwa Karmila, adik saya, kesurupan setan?" Miko semakin antusias."Ada arwah yang merasuki adikmu....""Persis! Saya pun beranggapan begitu. Tapi, Bapak saya selalu menilai saya kelewatan, mengada-ada."
Pak Wisnu mengangguk-angguk, tanda memahami."Apakah ada kaitannya dengan rumah kami?""Saya tidak berani memastikan begitu. Tapi...."
"Apakah sebelumnya pernah terjadi keanehan di rumah itu? Sejak semula saya kurang setuju kalau Bapak saya membeli rumah hantu itu."
"Rumah hantu?""Mirip, kan? Suasananya begitu..." Miko berhenti sebentar. "Tunggu! Sekarang saya ingat lagi....""Selama ini tidak pernah terjadi keanehan di rumah itu, kecuali....""Tunggu dulu, Pak. Sekarang saya yakin bahwa suara nyanyian dari mulut adik saya sama sekali bukan suaranya. Melainkan...."
"Suara anak-anak?" potong Pak Wisnu."Ya, betul!"Sebentar, Pak Wisnu seolah membantu dengan mengernyitkan dahi berusaha mengingat-ingat. "Di telinga saya, suara itu adalah suara Niar.""Bapak yakin?""Dulu saya sering datang ke rumah itu untuk memotong rumput. Beberapa kali dalam sebulan Pak Sindhu mengupah saya untuk membersihkan halaman rumahnya. Memotong rumput, memangkas pohon. Jadi, saya sudah hapal dengan suara dan nyanyian Niar. Kasihan anak itu....""Tapi, kata Bapak saya, Pak Sindhu tidak memiliki anak.""Bohong. Mungkin ia hanya malu karena...." Pak Wisnu ragu untuk meneruskan ucapannya."Karena apa, Pak?" Miko mendesak.
Pak Wisnu menarik napas panjang terlebih dahulu. "Putri satu-satunya itu berubah ingatan!""Mak-maksud Bapak, gila?!"***
CHAPTER 7:
MISTERI ARWAH YANG SUKA BERNYANYI
MISTERI ARWAH YANG SUKA BERNYANYI
Pak
Wisnu menghela napas panjang lagi. "Panjang ceritanya. Tapi semua warga di
daerah ini tahu persis peristiwa menyedihkan yang dialami keluarga Pak
Sindhu."Miko takzim menyimak."Pak Sindhu mewarisi rumah tua itu dari
kakeknya. Ia tinggal bersama istrinya yang cantik hingga kemudian dikaruniai
seorang putri yang cantik. Niar namanya. Ia buah hati kedua orangtuanya. Sayang
kebahagiaan mereka terenggut. Suatu hari mobil yang mereka kendarai mengalami
kecelakaan fatal. Istri Pak Sindhu meninggal dalam kecelakaan
itu.""Juga Niar?" Miko semakin antusias."Tidak. Niar
selamat meski harus menjalani banyak waktu untuk perawatan. Dan ia... ia
mengalami gangguan otak. Ia mengalami gegar otak berat karena benturan keras
dalam kecelakaan tersebut. Berbagai cara telah ditempuh, namun hasilnya...
entahlah, hanyan Pak Sindhu yang tahu. Setahu kami, Niar tumbuh semakin dewasa,
tapi tingkah dan kemampuannya abnormal — tetap seperti anak kecil. Ia
didiagnosis mengalami gangguan mental karena gegar otak akut. Bertahun-tahun
Pak Sindhu hidup berdua dengan Niar yang tidak waras. Kala kecelakaan maut itu,
Niar baru jalan lima tahun, hingga sekarang... mungkin usianya limabelas
tahun.""Sama dengan usia Karmila," desis Miko."Tapi
anehnya," lanjut Pak Wisnu," Niar tiba-tiba tak pernah kelihatan
lagi. Orang-orang tak pernah lagi mendengar lagu-lagunya yang lucu dan
racau.""Sejak kapan?""Hampir setahun yang lalu, tepatnya
sebelum Pak Sindhu menikah lagi. Waktu itu....""Tunggu dulu, Pak!
Jadi, Pak Sindhu sudah punya istri lagi?"
Pak
Wisnu mengangguk. "Waktu itu, sejak wanita yang kemudian dipersunting Pak
Sindhu hadir, Niar telah tidak kelihatan lagi. Katanya, entah siapa yang
bilang, Niar dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Kasihan, kan?"
"Seharusnya memang begitu.""Kenapa tidak dulu-dulu?""Pasti Pak Sindhu sudah banyak berupaya.""Ya, mungkin begitu. Ah, orang itu memang amat tertutup sejak istrinya meninggal. Ketika menikah, orang-orang di sini pun tak ada yang diundangnya ke pesta pernikahannya.""Mereka menikah di sini?""Tidak. Kabarnya mereka menikah di kota istri barunya. Dan sejak saat itu, rumah yang kalian tempati itu dikosongkan. Hanya sesekali saja Pak Sindhu datang menengok.""Pantas rumah itu kurang terawat," gumam Miko.
"Hampir setahun ditinggalkan."Apakah ada sesuatu yang tak wajar di rumah itu sehingga Pak Sindhu meninggalkan rumahnya, bahkan kemudian menjualnya dengan harga yang sangat murah. Rumah tersebut sebenarnya sangat artistik, bukan?"Pak Wisnu memainkan jari-jarinya. "Seingat saya tak ada yang aneh di rumah itu. Tak pernah.""Mungkin ada hantunya...."
Pak Wisnu menggeleng."Jangan karena ada saya, Pak....""Oh, tidak! Rumah itu biasa-biasa saja. Sekali pun tak pernah ada kejadian aneh, apalagi menyeramkan. Kesannya saja yang angker, karena tidak terawat dan catnya yang kusam termakan cuaca.""Lalu, kejadian apa yang telah menimpa adik saya? Kenapa bisa seperti itu? Kerasukan, seperti orang gila dan...."
"Saya bukan orang pintar, bukan dukun atau paranormal. Untuk urusan kerasukan setan, mungkin bisa diatasi oleh mereka, yang ahli ilmu gaib."
"Mudah-mudahan dokter bisa mengatasi. Mungkin Karmila memang sakit dah harus diobati...," gumam Miko."Saya harap begitu," ucap Pak Wisnu. Ucapan bernada bimbang.
"Seharusnya memang begitu.""Kenapa tidak dulu-dulu?""Pasti Pak Sindhu sudah banyak berupaya.""Ya, mungkin begitu. Ah, orang itu memang amat tertutup sejak istrinya meninggal. Ketika menikah, orang-orang di sini pun tak ada yang diundangnya ke pesta pernikahannya.""Mereka menikah di sini?""Tidak. Kabarnya mereka menikah di kota istri barunya. Dan sejak saat itu, rumah yang kalian tempati itu dikosongkan. Hanya sesekali saja Pak Sindhu datang menengok.""Pantas rumah itu kurang terawat," gumam Miko.
"Hampir setahun ditinggalkan."Apakah ada sesuatu yang tak wajar di rumah itu sehingga Pak Sindhu meninggalkan rumahnya, bahkan kemudian menjualnya dengan harga yang sangat murah. Rumah tersebut sebenarnya sangat artistik, bukan?"Pak Wisnu memainkan jari-jarinya. "Seingat saya tak ada yang aneh di rumah itu. Tak pernah.""Mungkin ada hantunya...."
Pak Wisnu menggeleng."Jangan karena ada saya, Pak....""Oh, tidak! Rumah itu biasa-biasa saja. Sekali pun tak pernah ada kejadian aneh, apalagi menyeramkan. Kesannya saja yang angker, karena tidak terawat dan catnya yang kusam termakan cuaca.""Lalu, kejadian apa yang telah menimpa adik saya? Kenapa bisa seperti itu? Kerasukan, seperti orang gila dan...."
"Saya bukan orang pintar, bukan dukun atau paranormal. Untuk urusan kerasukan setan, mungkin bisa diatasi oleh mereka, yang ahli ilmu gaib."
"Mudah-mudahan dokter bisa mengatasi. Mungkin Karmila memang sakit dah harus diobati...," gumam Miko."Saya harap begitu," ucap Pak Wisnu. Ucapan bernada bimbang.
***
CHAPTER 8:
ARWAH YANG SUKA MENYANYI LAGU ANAK-ANAK
ARWAH YANG SUKA MENYANYI LAGU ANAK-ANAK
Ibu
Wibi kembali terguncang. Tengah malam, ketika semua baru saja terlelah, Karmila
kembali bertingkah aneh. Kembali menari dan bernyanyi seperti orang gila. Pak
Wibisono dan Miko berusaha memegangi tubuh Karmila, malahan terlempar ketika
gadis itu meronta-ronta. Di tengah-tengah kepanikannya, tiba-tiba Miko ingat
kisah yang dituturkan Pak Wisnu.
Miko telah berdiri persis di depan Mila yang masih berputar-putar dan menyanyikan lagu anak-anak dengan suara yang aneh."Niar!" suara Miko keras menghardik.Pak Wibisono kaget, sekaligus khawatir melihat tindakan Miko yang menurutnya sangat aneh. Tapi di luar dugaan, hardikan itu seketika menghentikan gerakan dan suara Karmila.Kamu Niar bukan? Kamu arwah Niar?!""Miko! Jangan macam-macam! Adikmu lagi sakit. Ia mengigau karena demamnya datang lagi!" Pak Wibisono mendorong tubuh Miko.
"Niar!" Miko tak mempedulikan ayahnya lagi. Ia sekali lagi menghardik. "Jika kamu berniat baik dan tak ingin mengganggu, pasti kamu mau menjawab. Kamu Niar, bukan?"Tiba-tiba Karmila menjatuhkan diri ke lantai, lalu menangis. Ia menangis sembari menggelosoh di lantai, seperti kelakuan seorang anak kecil.
Miko telah berdiri persis di depan Mila yang masih berputar-putar dan menyanyikan lagu anak-anak dengan suara yang aneh."Niar!" suara Miko keras menghardik.Pak Wibisono kaget, sekaligus khawatir melihat tindakan Miko yang menurutnya sangat aneh. Tapi di luar dugaan, hardikan itu seketika menghentikan gerakan dan suara Karmila.Kamu Niar bukan? Kamu arwah Niar?!""Miko! Jangan macam-macam! Adikmu lagi sakit. Ia mengigau karena demamnya datang lagi!" Pak Wibisono mendorong tubuh Miko.
"Niar!" Miko tak mempedulikan ayahnya lagi. Ia sekali lagi menghardik. "Jika kamu berniat baik dan tak ingin mengganggu, pasti kamu mau menjawab. Kamu Niar, bukan?"Tiba-tiba Karmila menjatuhkan diri ke lantai, lalu menangis. Ia menangis sembari menggelosoh di lantai, seperti kelakuan seorang anak kecil.
Miko mendengar tangis seorang bocah!
Pak
Wibisono dan istrinya tak bisa berbuat banyak, kecuali memandang anak
laki-lakinya itu, yang kini berjongkok sambil membelai kepala Karmila.
"Niar... Niar...," katanya lembut. "Kami semua orang baik-baik dan tidak ingin mengganggu kamu. Tolong katakan... apa yang kamu mau? Tolong, kasihanilah adikku. Niar... Niar...."Pak Wibisono dan istrinya menjadi takjub luar biasa manakala tiba-tiba Karmila menghentikan tangisnya.
Karmila berdiri setelah meraih lengan Miko, serta menarik kakaknya hingga berdiri juga. Sebelum Miko paham, ia terpaksa menurut ketika Karmila menariknya menuruni tangga. Karmila berhenti di anak tangga terakhir. Miko masih terus dipegang pergelangan tangannya oleh Karmila, seakan-akan orang buta yang ditunjukkan jalannya. Di samping tangga menuju lantai atas itu, mendadak Karmila kembali menangis. Berkali-kali ia menunjuk ke arah dinding di bawah tangga itu."Bongkar! Bongkar! Bongkar!" teriak Karmila berkali-kali bagai histeris. Ia terus menunjuk dinding di bawah tangga itu.
Miko kebingungan lagi. Ia memandang kedua orangtuanya yang juga sama-sama bingung.Tangis Karmila semakin keras. Ia kembali meronta-ronta dan menggelosoh di lantai, mirip kelakuan bocah kecil yang dikecewakan.
Setelah itu Karmila terkulai, tertidur di lantai yang dingin dengan keringat bersimbah di sekujur tubuhnya. Ketika Miko dengan susah-payah membopong Karmila ke kamar ibunya, Pak Wibisono menguntit dari belakang dengan sikap tak berdaya."Niar? Siapa Niar?""Anak Pak Sindhu. Bapak lupa cerita Pak Wisnu tadi pagi?"Setelah Karmila ditidurkan, Pak Wibisono dan istrinya duduk rapi di depan anak laki-lakinya. Miko menceritakan pertemuan dengan Pak Wisnu. Ia menceritakan kembali apa yang telah didengarnya dari Pak Wisnu."Aneh juga. Sekian pertemuan dengan Pak Sindhu, ia tak pernah bercerita perihal keluarganya, apalagi tentang anaknya yang mengalami gangguan mental. Bapak bahkan sama sekali tidak tahu bahwa Pak Sindhu telah beristri lagi.""Mungkin masih ada rahasia-rahasia yang sengaja disembunyikan olehnya. Rahasia-rahasia rumah ini," kata Ibu Wibi. Ia tak bisa menyembunyikan ketakutan dan kekhawatirannya. "Lalu, apa hubungannya dengan Niar? Apa betul orang yang belum mati bisa merasuki Mila? Aneh!""Bongkar...?!"Miko tengah berpikir keras.
"Niar... Niar...," katanya lembut. "Kami semua orang baik-baik dan tidak ingin mengganggu kamu. Tolong katakan... apa yang kamu mau? Tolong, kasihanilah adikku. Niar... Niar...."Pak Wibisono dan istrinya menjadi takjub luar biasa manakala tiba-tiba Karmila menghentikan tangisnya.
Karmila berdiri setelah meraih lengan Miko, serta menarik kakaknya hingga berdiri juga. Sebelum Miko paham, ia terpaksa menurut ketika Karmila menariknya menuruni tangga. Karmila berhenti di anak tangga terakhir. Miko masih terus dipegang pergelangan tangannya oleh Karmila, seakan-akan orang buta yang ditunjukkan jalannya. Di samping tangga menuju lantai atas itu, mendadak Karmila kembali menangis. Berkali-kali ia menunjuk ke arah dinding di bawah tangga itu."Bongkar! Bongkar! Bongkar!" teriak Karmila berkali-kali bagai histeris. Ia terus menunjuk dinding di bawah tangga itu.
Miko kebingungan lagi. Ia memandang kedua orangtuanya yang juga sama-sama bingung.Tangis Karmila semakin keras. Ia kembali meronta-ronta dan menggelosoh di lantai, mirip kelakuan bocah kecil yang dikecewakan.
Setelah itu Karmila terkulai, tertidur di lantai yang dingin dengan keringat bersimbah di sekujur tubuhnya. Ketika Miko dengan susah-payah membopong Karmila ke kamar ibunya, Pak Wibisono menguntit dari belakang dengan sikap tak berdaya."Niar? Siapa Niar?""Anak Pak Sindhu. Bapak lupa cerita Pak Wisnu tadi pagi?"Setelah Karmila ditidurkan, Pak Wibisono dan istrinya duduk rapi di depan anak laki-lakinya. Miko menceritakan pertemuan dengan Pak Wisnu. Ia menceritakan kembali apa yang telah didengarnya dari Pak Wisnu."Aneh juga. Sekian pertemuan dengan Pak Sindhu, ia tak pernah bercerita perihal keluarganya, apalagi tentang anaknya yang mengalami gangguan mental. Bapak bahkan sama sekali tidak tahu bahwa Pak Sindhu telah beristri lagi.""Mungkin masih ada rahasia-rahasia yang sengaja disembunyikan olehnya. Rahasia-rahasia rumah ini," kata Ibu Wibi. Ia tak bisa menyembunyikan ketakutan dan kekhawatirannya. "Lalu, apa hubungannya dengan Niar? Apa betul orang yang belum mati bisa merasuki Mila? Aneh!""Bongkar...?!"Miko tengah berpikir keras.
***
CHAPTER 9:
MISTERI SATIR DI RUMAH KUNO
MISTERI SATIR DI RUMAH KUNO
Hari
ini Pak Wibisono berjanji hendak menemui seorang paranormal kenalannya sepulang
dari kantor, untuk membicarakan keanehan yang terjadi pada Karmila. Ibu Wibi
dan Miko amat mendukung keputusan Pak Wibisono itu, namun Miko juga punya
rencana lain.Pulang sekolah, Miko tidak langsung pulang ke rumah, melainkan
berbelok ke rumah Pak Wisnu. Untunglah Pak Wisnu juga sedang ada di rumah.Ketika
telah berhadapan dengan orang tua itu, Miko langsung menceritakan kejadian
semalam.
"Dinding di bawah tangga?" Pak Wisnu memotong cerita Miko.
"Dinding di bawah tangga?" Pak Wisnu memotong cerita Miko.
"Niar... maksud
saya Karmila, menunjuk-nunjuk dinding di bawah tangga itu. Bongkar! Bongkar!
Begitu katanya, Pak."Pak Wisnu nampak berpikir. Ia tengah menggali
ingatannya."Saya sering masuk ke rumah itu dan tahu persis situasi dari
ruang-ruang di dalam. Tapi seingat saya, di bawah tangga ke atas itu sengaja
dibiarkan terbuka.
Tentu
saja terbuka, karena jadi ruang kecil yang dimanfaatkan sebagai gudang. Betul!
Saya selalu mengambil sabit dan gunting rumput dari bawah tangga,"
ungkapnya."Nanti dulu! Bapak pasti salah ingat. Tak ada ruang di bawah tangga.
Yang ada cuma dinding!""Bongkar...?" Pak Wisnu bergumam. Lalu tiba-tiba:
"Ayo kita ke rumahmu!"Miko terbawa oleh semangat Pak Wisnu. Hanya
dalam dua kali pertemuan, ia telah merasa akrab dengan Pak Wisnu. Tidak lama
berselang sesampainya di rumah, Ibu Wibi tidak bisa berbuat banyak kecuali
membiarkan Pak Wisnu masuk ke rumah. Ia percaya sepenuhnya pada Miko. Dan semua
demi kebaikan Karmila!
"Dinding ini!" Miko menunjuk dinding di sisi tangga, atau lebih tepat disebut di bawah tangga. Semestinya ada ruang berbentuk segitiga di bawah tangga itu, namun yang ada adalah dinding. Dinding yang menutup ruang kecil berbentuk segitiga di bawah tangga."Dulu dinding ini tidak ada!" kata Pak Wisnu spontan. Spontan pula ia memukul-mukul permukaan dinding itu. "Nah, benar bukan? Dengarkan suaranya! Di balik dinding ini ada ruang kosong. Di sinilah dulu saya mengambil dan menaruh kembali peralatan kebun."
Miko ikut memukul-mukul dan akhirnya membenarkan ucapan Pak Wisnu.
"Ini dinding baru. Lihat perbedaan warnat catnya. Beda, kan? Dinding ini lebih baru dan... sayangnya agak asal-asalan membuatnya. Siapa tukang borong yang membuatnya?" Pak Wisnu berkata pada dirinya sendiri.
Selagi keduanya, ditambah kemudian dengan Ibu Wibi, masih memeriksa dinding itu, terdengar suara langkah tergesa menuruni anak tangga.
"Bongkar!"
Mereka bertiga menoleh dan tercekat."Mila?!" Ibu Wibi dan Miko menjerit serentak."Niar?" Pak Wisnu berkomat-kamit.Mulut Karmila yang mengeluarkan keluhan amarah, berangsur-angsur berubah menjadi tangisan pilu. Tangis seorang bocah!Mulut Pak Wisnu masih komat-kamit. Ia menggosok-gosokkan telapak tangannya, meniupkan tiga kali, lalu melangkah mendekati Karmila. Tangan Pak Wisnu terulur maju dan tahu-tahu telapak tangannya mengusap wajah Karmila.Miko dan Ibu Wibi kian terpukau ketika melihat Karmila seperti terhentak. Seketika pula ekspresi wajah dan cahaya matanya berubah."Ibu...?" Karmila menatap ibunya dan kakaknya bergantian. Matanya seperti seorang yang baru bangun dari tidur. "Pada mau ngapain?""Anu... Non, Ibu menyuruh saya membongkar dinding ini." Pak Wisnu justru yang menjawab sambil menunjuk dinding di bawah tangga.
"Lho, kenapa?" Karmila terheran-heran."Karena bisa untuk gudang, Mila," kata Miko.Ibu mengangguk. Artinya, di antara mereka bertiga, tanpa harus bicara, telah ada kesepakatan bahwa dinding itu harus dibongkar.
"Dinding ini!" Miko menunjuk dinding di sisi tangga, atau lebih tepat disebut di bawah tangga. Semestinya ada ruang berbentuk segitiga di bawah tangga itu, namun yang ada adalah dinding. Dinding yang menutup ruang kecil berbentuk segitiga di bawah tangga."Dulu dinding ini tidak ada!" kata Pak Wisnu spontan. Spontan pula ia memukul-mukul permukaan dinding itu. "Nah, benar bukan? Dengarkan suaranya! Di balik dinding ini ada ruang kosong. Di sinilah dulu saya mengambil dan menaruh kembali peralatan kebun."
Miko ikut memukul-mukul dan akhirnya membenarkan ucapan Pak Wisnu.
"Ini dinding baru. Lihat perbedaan warnat catnya. Beda, kan? Dinding ini lebih baru dan... sayangnya agak asal-asalan membuatnya. Siapa tukang borong yang membuatnya?" Pak Wisnu berkata pada dirinya sendiri.
Selagi keduanya, ditambah kemudian dengan Ibu Wibi, masih memeriksa dinding itu, terdengar suara langkah tergesa menuruni anak tangga.
"Bongkar!"
Mereka bertiga menoleh dan tercekat."Mila?!" Ibu Wibi dan Miko menjerit serentak."Niar?" Pak Wisnu berkomat-kamit.Mulut Karmila yang mengeluarkan keluhan amarah, berangsur-angsur berubah menjadi tangisan pilu. Tangis seorang bocah!Mulut Pak Wisnu masih komat-kamit. Ia menggosok-gosokkan telapak tangannya, meniupkan tiga kali, lalu melangkah mendekati Karmila. Tangan Pak Wisnu terulur maju dan tahu-tahu telapak tangannya mengusap wajah Karmila.Miko dan Ibu Wibi kian terpukau ketika melihat Karmila seperti terhentak. Seketika pula ekspresi wajah dan cahaya matanya berubah."Ibu...?" Karmila menatap ibunya dan kakaknya bergantian. Matanya seperti seorang yang baru bangun dari tidur. "Pada mau ngapain?""Anu... Non, Ibu menyuruh saya membongkar dinding ini." Pak Wisnu justru yang menjawab sambil menunjuk dinding di bawah tangga.
"Lho, kenapa?" Karmila terheran-heran."Karena bisa untuk gudang, Mila," kata Miko.Ibu mengangguk. Artinya, di antara mereka bertiga, tanpa harus bicara, telah ada kesepakatan bahwa dinding itu harus dibongkar.
***
Langganan:
Postingan (Atom)


















